November 28, 2020
Limbah APD Virus Corona ini

Hanya Sekali Pakai, Berikut Langkah Menangani Limbah APD Selama Pandemi Covid-19

Penggunaan alat perlindungan diri sangat penting bagi tenaga medis untuk menghindari resiko penularan penyakit, apalagi di saat pandemi Covid-19. Semakin banyaknya pasien, secara tidak langsung akan meningkatkan penggunaan alat pelindung diri tersebut. Karena penggunaannya yang hanya satu kali pakai, tentunya akan membuat limbah dari pelindung ini semakin menumpuk. Berikut cara menangani limbah APD selama pandemi Covid-19.

Cara Menangani Limbah Alat Perlindungan Diri

1. Potong Sebelum Dibuang

Langkah satu ini dianjurkan untuk menangani sampah alat perlindungan diri dari jenis masker, baik di dalam maupun luar fasilitas pelayanan kesehatan, seperti masyarakat. Dalam penanganan limbah masker, usahakan untuk memotong atau merusaknya terlebih dahulu sebelum dibuang ke tempat penampungan. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya penyalahgunaan, misalnya saja dijual kembali dan lainnya.

Limbah APD Virus Corona Melebur Limbah Medis

Seperti halnya yang dianjurkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bahwa sebelum masker dibuang lakukan penanganan terlebih dahulu dengan memotongnya. Lalu, bungkus dengan tisu atau kertas dan kumpulkan dalam satu kantong. Namun, pastikan bahwa limbah tersebut tidak bercampur dengan sampah rumah tangga. Adapun cara yang disarankan oleh Kemenkes, sebelum merusak dan membuang perlu dilakukan desinfeksi dahulu.

2. Tempat Penampung Sementara Atau Depo Transit

Untuk menangani membludaknya limbah alat perlindungan diri saat Covid-19, WHO dan badan kesehatan Inggris juga menyarankan untuk menyediakan depo transit. Dimana, tempat sementara ini digunakan untuk menampung sampah selama 72 jam, sebelum dibuang ke fasilitas pengolahan akhir. Namun, sebelum meletakkannya pada TPS, pastikan bahwa alat perlindungan diri bekas telah terbungkus plastik kuning dua lapis dengan baik.

Selama wabah berlangsung, sangat direkomendasikan untuk menghadirkan tempat penampungan sementara limbah dari fasilitas kesehatan. Selain itu, juga disarankan untuk menyimpan sampah alat perlindungan diri selama 72 jam sebelum pengangkutan. Dengan harapan agar virus mati dahulu sebelum dibawa ke penanganan akhir, sehingga menurunkan resiko penularannya.

3. Metode Penguapan Dengan Autoklaf

Sejak tahun 2003 silam, WHO dan lembaga PBB yang fokus menangani isu lingkungan hidup atau dikenal UNEP, telah mengesahkan metode penguapan dengan autoklaf sebagai langkah terbaik untuk menangani limbah APD. Dengan menggunakan teknik ini, sampah medis akan dimasukkan ke autoklaf untuk disterilkan menggunakan uap panas, kemudian dicacah hingga akhirnya baru dibuang ke fasilitas penampungan akhir.

Limbah APD Virus Corona

Sebelum menangani limbah alat perlindungan diri dengan metode penguapan, ada baiknya untuk memisahkan sampah sesuai dengan jenisnya terlebih dahulu. Kemudian, kumpulkan limbah pada tempat pengumpulan sementara untuk disimpan selama tiga hari. Setelah itu, baru bisa menggunakan autoklaf yang disertai dengan alat pencacah, dan limbah medis bisa dibuang ke tempat penampungan akhir bersama dengan sampah lainnya.

4. Metode Pembakaran Atau Insinerasi

Metode satu ini memang bisa untuk menangani limbah alat perlindungan diri yang semakin menumpuk, namun cenderung tidak disarankan. Pasalnya, proses pembakaran bisa menimbulkan masalah baru, yaitu pencemaran lingkungan akibat munculnya limbah B3 sisa proses insinerasi. Dimana, sampah yang berbentuk abu ini bisa terbang di udara dan sisa kerak pembakaran serta emisi berpotensi mencemari air, udara dan tanah.

Semakin bertambahnya hari, limbah alat perlindungan diri tentunya akan terus bertambah, apalagi jika pasien Covid-19 yang ditangani terus meningkat. Beberapa langkah tersebut bisa dijadikan pilihan untuk mengatasi sampah alat perlindungan diri yang sering digunakan tenaga medis maupun masyarakat. Adapun metode yang sangat dianjurkan adalah penguapan, karena jika menggunakan pembakaran akan berdampak buruk bagi lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *